RISET PEMASARAN : TENTANG BAGAIMANA STARBUCK MENEMBUS PASAR KOPI DI ASIA TENGGARA

 STARBUCK MENEMBUS PASAR KOPI DI ASIA TENGGARA

NAMA    : CHRISTOPEL PS 
NIM        : 23010048

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk menggali dan mengatahui apa saja strategi dan langkah yang diambil dan dilakukan oleh perusahaan kopi terbesar di dunia yaitu Starbucks Coffee Company, dalam memasuki dan menguasai pasar global dunia. Pada zaman sekarang, semua kalangan usia mulai dari muda, remaja, hingga dewasa sangat menyukai kopi sebagai minuman untuk menemani segala aktifitas yang mereka lakukan. Tidak sedikit dari kalangan tersebut menyukai dan gemar membeli minuman kopi bernama Starbucks. Starbucks merupakan perusahaan kopi terbesar asal Amerika Serikat yang sudah berdiri sejak tahun 1971. Menurut data terakhir pada tahun 2021, Starbucks tercatat sudah memiliki lebih dari 33.000 kedai yang tersebar di berbagai belahan dunia. Penelitian ini dilakukan atas rasa ingin tahu apa saja strategi yang dilakukan oleh perusahaan kopi terbesar di dunia yaitu Starbucks, dalam memasuki pasar global dunia dan bisa bertahan bahkan terus berinovasi sampai penelitian ini selesai dilakukan. Untuk semakin mendukung penelitian ini, metodologi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pencarian internet searching. Tujuan digunakan nya metode penelitian ini adalah untuk dapat mendapatkan informasi dari sumber yang nyata dan sesuai fakta yang terjadi di lapangan dan memiliki bukti fisik bersumber dari internet yang nantinya akan menghasilkan hasil yang berupa kata-kata deskriptif dan gambar sebagai hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Dalam proses penelitian, ditemukan bahwa Starbucks telah melakukan analisis yang sangat mendetail dalam segi target pasar, risiko pasar, taktik promosi, dan juga lingkungan pesaing. Starbucks merupakan perusahaan dengan pangsa global yang memiliki outlet di berbagai negara yang tersebar di dunia. Dalam mempertahankan dan terus mengembangkan bisnisnya, Starbucks selalu memperhatikan segi target pasar yang mereka incar, risiko pasar yang akan datang, strategi promosi yang baik untuk meningkatkan profit, dan juga memperhatikan dan menganalisis lingkungan pesaing untuk menghindari ancaman.

Kata Kunci: strategi, internet searching, starbucks, pasar global


PENDAHULUAN

Starbucks, merupakan coffee company atau perusahaan kopi terbesar yang berasal dari Amerika ini tercatat sudah memiliki lebih dari 33.000 kedai yang tersebar di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri perusahaan Starbucks memiliki hampir 500 kedai yang sudah tersebar hampir diseluruh kotanya. Sebagai salah satu perusahaan yang memiliki market global terbesar di dunia, Starbucks pasti memiliki strategi agar usaha bisnis yang mereka jalankan terus berkelanjutan, salah satunya dengan melakukan yang namanya Sustainability Management.

Pasar Global, atau global market merupakan sebuah wadah atau tempat yang sangat besar yang berisi penjual dan pembeli nya melakukan transaksi bisnisnya berskala internasional. Tujuan dari sebuah perusahaan dalam memasuki pasar global sendiri tentu saja untuk mencari keuntungan tidak hanya dari satu perusahaan di negara nya sendiri, tetapi juga dari para investor yang membeli dan membuka kedai waralaba di negara tertentu. Sebelum memasuki pasar global, perusahaan sendiri sudah harus yang namanya melakukan analisis, analisis yang perlu dilakukan antara lain ialah melakukan analisis terhadap target pasar, risiko pasar, promosi yang akan dilakukan dan juga lingkungan pesaing yang pastinya selalu ada di negara tertentu.

Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja strategi yang dilakukan oleh perusahaan kopi terbesar di dunia yang berasal dari Amerika Serikat yaitu Starbucks dalam langkah nya melakukan ekspansi ke hampir seluruh dunia. Dengan dilakukannya analisis ini, dapat diketahui apakah Starbucks berhasil untuk memasuki pasar global dan menguasai target pasar nya sekaligus mengatasi risiko pasar yang ada dan juga dari lingkungan pesaing. Skala internasional sendiri merupakan sebuah wadah yang sangat luas tidak terkecuali bagi Starbucks yang merupakan coffee company terbesar yang kedai nya sendiri sudah dapat kita temui di berbagai negara, sebelum memiliki kedai yang tersebar luas di berbagai negara pasti menarik untuk mengetahui apa saja langkah dan strategi bisnis internasional yang dilakukan oleh Starbucks.

Ketika memasuki kawasan Asia Tenggara, Starbucks menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan pasar Barat. Wilayah ini memiliki sejarah panjang dengan teh dan kopi lokal yang kuat, serta konsumen yang sangat beragam dari segi budaya, ekonomi, dan preferensi rasa. Namun, melalui pendekatan riset pasar yang mendalam dan strategi lokalisasi yang efektif, Starbucks berhasil membangun posisi kuat di pasar ini dan menjadi simbol gaya hidup perkotaan yang modern.

1. Analisis Pasar dan Riset Konsumen


Sebelum membuka gerai di tiap negara, Starbucks melakukan market research untuk memahami:
  • Kebiasaan minum kopi dan teh masyarakat setempat,
  • Tingkat daya beli,
  • Persepsi terhadap merek asing,
  • serta tren gaya hidup urban.
Hasil riset menunjukkan bahwa:
  • Konsumen di Asia Tenggara lebih menyukai kopi manis, creamy, dan beraroma lembut, berbeda dengan espresso pekat khas Eropa.
  • Minum kopi bagi banyak anak muda dianggap sebagai simbol status dan modernitas, bukan sekadar kebutuhan energi.
  • Kedai kopi dilihat sebagai ruang sosial untuk bersantai, bekerja, atau bersosialisasi.
Starbucks memanfaatkan insight ini untuk menyesuaikan produknya secara lokal, tanpa mengorbankan identitas merek global.

2. Penerapan Teori Pemasaran (Marketing Mix 4P)

a. Product (Produk)

Starbucks menyesuaikan produknya dengan preferensi lokal melalui lokalisasi rasa dan bahan baku.

Contoh adaptasi:
  • Indonesia: menu “Asian Dolce Latte” dan penggunaan biji kopi lokal dari Sumatra dan Toraja.
  • Thailand: Thai Tea Frappuccino dengan cita rasa khas lokal.
  • Filipina: varian Macapuno Coconut Cream Frappuccino dengan kelapa muda lokal.
  • Vietnam: kopi dengan sentuhan condensed milk (susu kental manis) sesuai kebiasaan lokal.
Selain minuman, Starbucks juga menawarkan makanan ringan lokal, seperti kue pandan, roti kaya, atau nasi goreng mini di beberapa negara.

b. Price (Harga)

Harga Starbucks dikategorikan premium, menyasar kelas menengah ke atas dan profesional muda.
Namun, perusahaan melakukan riset elastisitas harga agar tetap kompetitif. Di beberapa negara seperti Indonesia dan Vietnam, Starbucks menyesuaikan ukuran gelas dan promosi musiman agar tetap terjangkau tanpa menurunkan persepsi kualitas.

c. Place (Distribusi & Lokasi)

Starbucks menempatkan gerainya di lokasi strategis:

  • Mal besar dan kawasan bisnis
  • Bandara internasional
  • Kawasan wisata dan pusat kuliner
  • Kampus dan area transit perkotaan
Strategi ini memperkuat konsep “third place”  tempat ketiga setelah rumah dan kantor  yang menjadi bagian penting dari positioning merek mereka.

d. Promotion (Promosi)

Promosi Starbucks tidak hanya berfokus pada produk, tetapi pada pengalaman dan gaya hidup.
Beberapa strategi promosinya antara lain:
  • Kampanye media sosial interaktif di Instagram, TikTok, dan Facebook
  • Program loyalitas digital melalui Starbucks Rewards App
  • Kolaborasi dengan selebritas dan merek lokal
  • Kegiatan CSR seperti Green Cup Campaign dan dukungan terhadap petani kopi lokal

3. Strategi Lokalisasi dan Citra Merek

Citra Starbucks dibangun melalui kombinasi antara identitas global dan sentuhan lokal.
Gerai di tiap negara memiliki desain interior yang menampilkan elemen budaya lokal — misalnya:

  • Motif batik dan kayu tropis di Indonesia
  • Ornamen bambu di Vietnam
  • Warna pastel khas budaya Thailand
  • Serta mural bertema kopi lokal di Filipina
Selain itu, Starbucks juga menekankan penggunaan bahan baku lokal, terutama kopi dari Asia Pasifik seperti Arabika Sumatra dan Sulawesi. Ini memperkuat reputasi mereka sebagai merek global yang peduli pada keberlanjutan dan ekonomi lokal.

4. Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP)

Segmentasi:

  • Berdasarkan demografi: kaum muda, profesional, dan kelas menengah ke atas.
  • Berdasarkan psikografi: individu yang menyukai modernitas, produktivitas, dan pengalaman eksklusif.
  • Berdasarkan perilaku: pelanggan yang mencari kenyamanan dan gaya hidup urban.
Targeting:
Starbucks menargetkan pelanggan berpendidikan, urban, dan tech-savvy yang menganggap kopi bukan hanya minuman, melainkan bagian dari identitas diri.
Positioning:
Starbucks memposisikan dirinya sebagai “tempat ketiga” yang menawarkan lebih dari sekadar kopi — sebuah pengalaman sosial, personal, dan emosional yang mendefinisikan gaya hidup modern.

5. Analisis SWOT Starbucks di Asia Tenggara

Dalam melihat strategi pemasaran Starbucks di Asia Tenggara, penting untuk memahami faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerjanya melalui pendekatan SWOT — yaitu Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman).

Kekuatan (Strengths)
Starbucks memiliki kekuatan utama pada brand image global yang sangat kuat, kualitas produk premium, serta pengalaman pelanggan yang konsisten di seluruh dunia. Konsumen mengenal Starbucks bukan hanya karena kopinya, tetapi karena suasananya yang nyaman, pelayanan ramah, dan nilai gaya hidup yang modern. Selain itu, kemampuan Starbucks dalam menyesuaikan menu dengan selera lokal di setiap negara Asia Tenggara menjadi faktor penting dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Penggunaan bahan baku berkualitas dan keterlibatan langsung dengan petani kopi lokal juga memperkuat citra perusahaan sebagai merek yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Kelemahan (Weaknesses)
Di sisi lain, Starbucks menghadapi tantangan berupa harga produk yang relatif tinggi untuk sebagian besar masyarakat Asia Tenggara, yang menjadikannya tidak mudah diakses oleh seluruh lapisan konsumen. Selain itu, merek ini sering dianggap terlalu “Barat” atau terlalu elit di beberapa pasar, sehingga kurang relevan bagi sebagian konsumen yang lebih menyukai produk lokal dengan rasa dan harga yang lebih familiar. Ketergantungan terhadap bahan impor dan biaya operasional yang tinggi juga menjadi kelemahan internal yang harus diperhatikan.
Peluang (Opportunities)
Peluang besar muncul dari pertumbuhan kelas menengah di Asia Tenggara, yang semakin memiliki daya beli dan tertarik pada produk premium. Tren budaya ngopi dan meningkatnya gaya hidup perkotaan menciptakan pasar yang terus berkembang. Selain itu, digitalisasi membuka peluang baru bagi Starbucks untuk memperluas layanan melalui aplikasi, pemesanan online, serta kerja sama dengan platform pengantaran makanan. Permintaan terhadap produk yang ramah lingkungan dan berbasis keberlanjutan juga dapat menjadi peluang besar bagi Starbucks untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan yang peduli terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Ancaman (Threats)
Meskipun peluangnya besar, Starbucks tetap menghadapi persaingan ketat dari merek lokal seperti Kopi Kenangan, Janji Jiwa, atau Highlands Coffee yang menawarkan rasa khas dan harga lebih terjangkau. Tren perubahan perilaku konsumen, yang mulai beralih ke kopi lokal dan minuman sehat nonkafein, juga menjadi tantangan. Selain itu, fluktuasi harga bahan baku kopi global serta kondisi ekonomi yang tidak menentu dapat memengaruhi biaya produksi dan daya beli konsumen.
Secara keseluruhan, analisis SWOT menunjukkan bahwa Starbucks memiliki fondasi merek yang kuat dan strategi adaptif yang baik. Namun, keberhasilan jangka panjang di Asia Tenggara tetap bergantung pada kemampuannya menyeimbangkan citra premium dengan kedekatan lokal, menjaga harga kompetitif, serta terus berinovasi dalam menghadapi perubahan selera konsumen.

6. Inovasi Digital dan Loyalitas Pelanggan


Starbucks memahami bahwa konsumen Asia Tenggara sangat aktif di dunia digital. Oleh karena itu, mereka mengembangkan ekosistem digital yang kuat melalui:

  • Aplikasi Starbucks Rewards dengan sistem poin, promo, dan personalisasi.
  • Pembayaran cashless (QR code, e-wallet, GoPay, GrabPay, dll).
  • Integrasi dengan media sosial dan layanan pesan antar, terutama selama pandemi COVID-19.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan loyalitas pelanggan, tetapi juga memberi Starbucks data perilaku konsumen yang sangat berguna untuk riset pemasaran lanjutan.

7. Dampak Sosial dan Budaya

Masuknya Starbucks membawa dampak terhadap:

  • Perubahan budaya minum kopi di Asia Tenggara — dari sekadar minuman sederhana menjadi simbol gaya hidup.
  • Peningkatan nilai ekonomi kopi lokal, karena Starbucks mempromosikan biji kopi asal daerah seperti Sumatra dan Java ke pasar global.
  • Tantangan bagi kedai kopi lokal, yang kini harus berinovasi agar tetap kompetitif.
Namun, di sisi lain, kehadiran Starbucks juga mendorong pertumbuhan industri kopi secara keseluruhan dan memperluas apresiasi masyarakat terhadap kopi berkualitas tinggi.

8. Strategi Keberlanjutan (Sustainability Strategy)

Starbucks berkomitmen untuk menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan etis.
Beberapa inisiatifnya di Asia Tenggara meliputi:

  • Program “Greener Stores” dengan desain hemat energi dan penggunaan bahan ramah lingkungan.
  • Kampanye pengurangan plastik sekali pakai (Bring Your Own Tumbler).
  • Kemitraan dengan petani kopi lokal untuk praktik pertanian berkelanjutan.
Melalui pendekatan ini, Starbucks tidak hanya memperkuat citra mereknya, tetapi juga menumbuhkan loyalitas pelanggan yang semakin peduli terhadap isu lingkungan.

9. Tantangan dan Masa Depan Starbucks di Asia Tenggara

Meski sukses, Starbucks harus terus beradaptasi terhadap dinamika pasar:

  • Konsumen kini semakin menyukai kopi lokal dengan harga terjangkau.
  • Tren minuman non-kafein dan sehat (seperti oat milk, plant-based drink) terus meningkat.
  • Digitalisasi membuka peluang baru untuk penjualan online dan personalisasi menu.
Ke depan, strategi yang disarankan bagi Starbucks adalah:
  • Menguatkan kerja sama dengan produsen kopi lokal.
  • Mengembangkan menu berbasis plant-based dan minuman sehat.
  • Memperluas platform digital dengan sistem membership yang lebih personal.
  • Menyempurnakan model bisnis community store untuk mendekatkan diri pada masyarakat lokal.





Kesimpulan

Kesuksesan Starbucks di Asia Tenggara bukan hasil kebetulan, melainkan hasil dari riset pemasaran yang mendalam, adaptasi budaya yang cermat, dan strategi global-lokal yang seimbang.
Dengan memahami perilaku konsumen, menyesuaikan produk, membangun citra merek premium, serta mengintegrasikan teknologi digital dan keberlanjutan, Starbucks telah berhasil mengubah cara masyarakat Asia Tenggara memandang kopi — dari sekadar minuman harian menjadi simbol gaya hidup modern.
Starbucks menjadi contoh nyata bagaimana pemasaran berbasis riset, budaya, dan inovasi dapat membawa merek global menembus batas geografis dan sosial, sekaligus tetap relevan di setiap pasar yang dimasukinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dampak Perkembangan e-comerce terhadap Industri Jasa Transportasi dan Logistik di Era Digital

STRUKTUR PERILAKU KONSUMEN JASA DALAM EKOSISTEM EKONOMI BERBAGI (Sharing Economy)

RINGKASAN BAB 5 STRATERGI PRODUK DALAM PASAR INTERNASIONAL