DAMPAK TINGKAT PENGANGGURAN GENERASI Z TERHADAP PEREKONOMIAN INDONEISA

 NAMA    : CHRISTOPEL P.S

NIM        : 23010048

DAMPAK TINGKAT PENGANGGURAN GENERASI Z TERHADAP PEREKONOMIAN INDONEISA


Pendahuluan

    Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, memiliki kekuatan demografis yang luar biasa. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, kini mulai memasuki dunia kerja dan berperan signifikan dalam perekonomian. Namun, tantangan yang dihadapi oleh generasi ini, terutama tingkat pengangguran yang cukup tinggi, memberikan dampak yang kompleks terhadap ekonomi nasional.
    Tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan Generasi Z bukan hanya masalah individu, tetapi juga menjadi isu struktural yang mempengaruhi berbagai aspek perekonomian. Pengangguran di usia produktif dapat menurunkan produktivitas nasional, mengurangi pendapatan per kapita, dan meningkatkan beban sosial yang harus dain itu, ketidakmamitanggung oleh pemerintah. Selpuan generasi muda untuk berkontribusi secara optimal dalam ekonomi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan menghambat inovasi serta perkembangan teknologi.

    Dalam konteks Indonesia, faktor-faktor seperti ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki oleh pencari kerja dan kebutuhan industri, perubahan teknologi yang cepat, serta tantangan dalam sistem pendidikan dan pelatihan kerja, turut berkontribusi terhadap tingginya angka pengangguran di kalangan Generasi Z. Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak dari pengangguran Generasi Z terhadap perekonomian Indonesia secara lebih mendalam, guna merumuskan kebijakan yang efektif dan strategi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini akan mengkaji berbagai aspek dari fenomena tersebut dan memberikan rekomendasi berdasarkan temuan yang ada.

Latar Belakang

    Indonesia sedang menikmati bonus demografi, di mana proporsi penduduk usia produktif berada pada titik tertinggi dalam sejarah. Generasi Z, yang merupakan bagian penting dari kelompok usia produktif ini, diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di masa depan. Namun, harapan tersebut terganjal oleh tingginya tingkat pengangguran di kalangan generasi muda ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di kalangan pemuda, khususnya Generasi Z, menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang kesiapan mereka dalam memasuki dunia kerja dan kemampuan pasar tenaga kerja dalam menyerap angkatan kerja muda.

    Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap tingginya tingkat pengangguran di kalangan Generasi Z. Salah satunya adalah ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki oleh lulusan pendidikan dan kebutuhan industri. Kurikulum pendidikan yang kurang responsif terhadap perubahan kebutuhan pasar kerja, minimnya program pelatihan yang relevan, serta kurangnya pengalaman kerja praktis, menjadi penyebab utama kesenjangan keterampilan. Selain itu, perkembangan teknologi yang pesat dan disrupsi digital juga mempengaruhi struktur pasar kerja, di mana banyak pekerjaan tradisional mulai tergantikan oleh otomatisasi dan teknologi baru, menciptakan tantangan tambahan bagi angkatan kerja muda.
    Kondisi ekonomi makro dan situasi pasar tenaga kerja yang kurang kondusif juga turut memperburuk situasi. Pada masa pandemi COVID-19, misalnya, banyak sektor industri yang mengalami penurunan aktivitas, sehingga peluang kerja bagi generasi muda semakin terbatas. Dampak jangka panjang dari pandemi ini masih terasa, dan mempengaruhi laju pemulihan ekonomi serta stabilitas pasar tenaga kerja.
    Dengan latar belakang ini, penting untuk memahami lebih dalam dampak pengangguran Generasi Z terhadap perekonomian Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengangguran di kalangan Generasi Z, serta menganalisis dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, produktivitas nasional, dan stabilitas sosial. Melalui pemahaman yang komprehensif, diharapkan dapat dirumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi pengangguran di kalangan generasi muda dan memaksimalkan potensi mereka dalam mendorong kemajuan ekonomi Indonesia.








Tabel Data Tingkat Pengangguran Generasi Z

Keterangan :

  1. Tingkat Pengangguran Generasi Z (%): Persentase Generasi Z yang tidak bekerja meskipun mencari pekerjaan.
  2. Pertumbuhan Ekonomi (%): Persentase perubahan tahunan dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
  3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%): Persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi (bekerja atau mencari pekerjaan).
  4. Pendapatan Per Kapita (USD): Pendapatan rata-rata per orang dalam satu tahun.
  5. Indeks Pembangunan Manusia: Indikator yang mengukur kualitas hidup dengan mempertimbangkan kesehatan, pendidikan, dan standar hidup.

Analisis Danpak

  1. Penurunan Produktivitas Nasional Tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan Generasi Z dapat menurunkan produktivitas nasional. Ketika banyak individu dalam usia produktif tidak bekerja, potensi kontribusi mereka terhadap output ekonomi tidak terealisasi. Ini mengakibatkan berkurangnya total output ekonomi yang bisa dicapai oleh negara, memperlambat laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
  2. Pengurangan Pendapatan Per Kapita Pengangguran yang tinggi berkontribusi pada pengurangan pendapatan per kapita. Dengan lebih sedikit orang yang bekerja dan menghasilkan pendapatan, daya beli masyarakat menurun, yang pada gilirannya berdampak pada konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Ketika pendapatan per kapita rendah, kualitas hidup juga cenderung menurun, yang dapat dilihat dari stagnasi atau penurunan dalam Indeks Pembangunan Manusia.
  3. Peningkatan Beban Sosial Tingkat pengangguran yang tinggi dapat meningkatkan beban sosial bagi pemerintah. Biaya untuk program kesejahteraan, pelatihan kerja, dan inisiatif pemberdayaan ekonomi meningkat seiring dengan jumlah pengangguran. Beban sosial ini dapat menguras anggaran pemerintah dan mengalihkan dana dari investasi produktif lainnya.
  4. Hambatan Inovasi dan Teknologi Generasi Z dikenal dengan keterampilan teknologi dan kemampuan adaptasi mereka yang tinggi terhadap perubahan digital. Tingginya tingkat pengangguran di kalangan mereka berarti banyak potensi inovasi dan teknologi yang tidak dimanfaatkan. Ini bisa menghambat perkembangan sektor teknologi dan inovasi di Indonesia, yang penting untuk pertumbuhan ekonomi modern.
Banyaknya Pengangguran karana kurangnya Pelatihan keterampilan kerja

Pengangguran ialah kondisi dimana seseorang tidak bekerja dalam usianya yang produktif, yakni sekisar antara 15 tahun hingga 65 tahun. Pengangguran merupakan masalah yang pokok dalam suatu masyarakat modern, dan pada umumnya pengangguran disebabkan karena jumlah angkatamn kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang mampu menyerapnya. Jadi tingkat pengangguran tinggi, sumber daya menjadi terbuang percuma dan tingkat pendidikan masyarakat merosot. Situasi ini menimbulkan kelesuan ekonomi yang berpengaruh pada emosi masyarakat dan kehidupan keluarga sehari-hari.

Maka Dengan adanya permasalahan tersebut, Pendidikan Luar Sekolah memiliki kedudukan yang sangat penting didalamnya untuk mengatasi pengangguran yang berlebihan. Cara permasalahan tersebut ialah dengan mebuka berbagai progam – progam pelatihan atau yang lainnya yang akan mewujudkan kesejahteraan masya
Pengangguran atau tuna karya (unemployment) merupakan istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran dapat diartikan sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Pengangguran yang masuk ke dalam kriteria mencari pekerjaan adalah penduduk usia kerja yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan dan sudah pernah bekerja, karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan dan sedang berusaha memperoleh pekerjaan.

Pengangguran merupakan penyakit social yang diakibatkan oleh ketiadaan atau kekurangan kerja. Pengangguran (employment) terjadi apabila jumlah tenaga kerja yang ditawarkan lebih besar daripada jumlah tenaga kerja yang diminta. Dengan kata lain, jumlah yang mencari pekerjaan lebih banyak daripada kesempatan kerja yang tersedia. Menurut Sukirno pengangguran adalah jumlah tenaga kerja dalam perekonomian yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperolehnya.
Selanjutnya menurut International Labor Organitation (ILO) memberikan definisi pengangguran yakni, 

1) Pengangguran terbuka adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang selama periode tertentu tidak bekerja dan bersedia menerima pekerjaan serta sedang mencari pekerjaan. 

2) Definisi pengangguran yang kedua ialah setengah pengangguran terpaksa merupakan seseorang yang bekerja sebagai buruh karyawan dan pekerja mandiri (berusaha sendiri) yang selama periode tertentu secara terpaksa bekerja kurang dari jam normal, yang masih mencari pekerjaan lain atau masih bersedia mencari pekerjaan lain.

Sedangkan menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) menyatakan bahwa 
1) setengah pengangguran terpaksa ialah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per-minggu yang masih mencari pekerjaan atau yang masih menerima pekerjaan lain. 
2) setengah pengangguran sukarela ialah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per-minggu namun tidak mencari pekerjaan dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain.

Jenis – Jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya

Pengangguran (unemployment) adalah kelompok angkatan kerja yang ingin bekerja, tetapi belum beruntung mendapat kesempatan untuk bekerja (belum mendapat kesempatan bekerja). Ada beberapa masalah yang dianggap sebagai penyebab timbulnya pengangguran. Dari penyebab timbulnya pengangguran tersebut, timbul beberapa istilah tentang pengangguran antara lain penganggurean sukarela (voluntary uncemployment) dan pengangguran terpaksa (involuntary uncemployment).

 Pengangguran sukarela adalah pengangguran yang bersifat sementara karena seorang pekerja ingin mencari pekerjaan yang lebih baik atau cocok dengan keahliannya. Sementara pengangguran terpaksa ialah pengangguran yang terpaksa diterima seseorang walaupun sebenarnya dia masih ingin bekerja. Pengangguran terpaksa ini berkaitan dengan jenis-jenis pengangguran lain yang pada umumnya menimbulkan masalah dalam pembangunan.

  1. Pengangguran Friksional (Frictional Unemployment)

Pengangguran jenis ini bersifat sementara, biasanya terjadi karena adanya kesenjangan antara pencari kerja dan kesempatan kerja. Kesenjangan ini dapat berupa kesenjangan waktu, informasi, maupun jarak. Mereka yang masuk dalam kategori pengangguran sementara umumnya rela menganggur untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Contoh yang selesai sekolah kemudian mencari pekerjaan dan menunggu pekerjaan.
  • Pengangguran Struktural (Structural Unemployment)
Dikatakan sebagai pengangguran struktural karena sifatnya yang mendasar. Pengangguran ini timbul akibat adanaya perubahan struktural akibat perekonomian. Perubahan dalam struktur perekonomian ini menimbulkan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan jenis tingkat keterampilan yang berbeda. keadaan ini menyebabkan keterampilan yang dimiliki oleh para pencari kerja tidak sesuai dengan tuntutan yang ada. Misalnya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk industri kimia menuntut persyaratanyang relative berat, yaitu pendidikan minimal sarjana, mampu menggunakan komputer, dan minimal menguasai bahasa Inggris.

Selain itu pengangguran struktural juga dapat diakibatkan oleh dua kemungkinan yakni akibat permintaan berkurang dan kemajuan pengunanaan teknologi. Pengangguran structural yang diakibatkan oleh permintaan yang berukarang ini misalnya, terjadi pada tukang jahit tradisional yang terdesak oleh industri yang menggunakan mesin-mesin berteknologi canggih yang mampu menghasilkan produk jadi dengan kualitas baik dan harga lebih murah. Itulah sebabnya para konseumen lebih memilih suatu produk jadi dari pada dating kepada produsen yang masihg menggunakan cara hand made, karena di angap lebih mahal. Dengan demikian produsen hand made tersebut menjadi kehilangan order, dan dia pun menjadi pengangguran strukturtal. Contoh lainnya, dapat juga terjadi pada seorang tukang sepatu tradisional yang tersisih oleh pabrik-opabrik sepatu modern yang mampu menghasilkan sepatu yang jauh lebih baik dengan harga lebih murah. Tukang sepatu tradisisonal, seperti halnya produsen hand made akan kehilangan permintaan dan akhirnya menjadi pengangguran struktural.

Selanjutnya pengangguran structural diakibatkan kemajuan teknologi, misalnya pengolahan tanah sawah untuk pertanian yang biasanya dicangkul (menggunakan tenaga manusia), sekaranmg diganti dengan mesin pengolah sawah, seperti traktor. Sekarang pekerjaan itu cukup dilakukan oleh seorang tenaga kerja dan sebuah traktor. Keadaan ini akan menciptakan sebuah pengangguran akibat pergantian tenaga  manusia dengan traktor,. Pengangguran structural yang diakibatkan kemajuan teknologio lebih dikenal sebagai pengangguran teknologi.
  • Pengangguran Musiman (Seasonal Unempoyment)
Pengangguran ini berkaitan erat dengan fluktuasi ekonomi jangka pendek, terutama di sector pertanian. Misalnya di luar musim tanam dan panen, para petani umumnya rela menganggur sampai menunggu musim tanam dan panen berikutnya.
  • Pengangguran Konjungturl/Siklis (Cycle Unempoyment)
Pengangguran ini timbul karena adanya gelombang naik turunnya kehidupan ekonomi, seperti terjadinya kemunduran (resesi) dan depresi sehingga mengakibatkan adanya pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan buruh.















Dampak Dari Timbulnya Pengangguran

Jumlah pengangguran yang terus meningkat merupakan masalah pembangunan yang serius. Meningkatnya pengangguran ini secara umum disebabkan oleh adanya pertumbuhan jumlah kesempatan kerja yang tersedia tidak bisa mengimbangi pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang terus semakin meningkat. Ketidakseimbangan antara aspek penawaran dan permintaan baik dari segi jumlah dan kualitas dapat menimbulkan akibat pengangguran yang serius. Pengangguran yang sudah sangat kronis dan bersifat struktural pada umumnya akan membawa dampak negatif terhadap pembangunan lingkungan, sosial, ekonomi dan politik pada suatu negara. Pengangguran yang sudah bersifat struktural ini sangta berpengaruh terhadap pencapaian kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangunan di negara yang bersangkutan.

Apabila dilihat dari pembangunan negara, dampak pengangguran yaitu berupa 

1) Melemahnya permintaan agregat, disini untuk dapat bertahan hidup manusia harus bekerja. Dengan bekerja dia akan memperoleh penghasilan yang digunakan untuk belanja barang atau jasa. Jika pengangguran tingi dan bersifat struktural, daya beli akan menurun yang pada gilirannya akan menimbulkan penurunan terhadap permintaan total (permintaan agregat). 

2) Melemahnya penawaran agregat, tingginya tingkat pengangguran akan menurunkan penaaran agregat. Dampak pengangguran terhadap penawaran agregat terasa dalam jangka panjang. Walaupun tenaga kerja dapat digantikan dengan barang modal, sehingga dapat digunakan untuk menaikkan penawaran agregat, di dalam mekanisme pasar (interaksi antara permintaan dan penawaran), sekalipun produksi bisa berjalan dengan efisien, tetapi jika permintaan agregat lemah, keseimbangan ekonomi terjadi ditingkat yangsangta rendah. Penurunan tingkat atau skala produksi akan menaikkan biaya produksi per unit sehingga penawaran agregat pun melemah.

Sedangkan apabila dilihat dari perkembangan perekonomian, dampak pengangguran terbagi menjadi dua aspek, yakni dampak pengangguran terhadap suatu perekonomian negara dan dampak pengangguran terhadap perekonomian individu yang mengalaminya dan masyarakat. Dampak pengangguran terhadap
perekonomian negara dapat di uraikan seperti berikut : 

1) Pengangguran dapat menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dapat dicapainnya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional rill (nyata) yang dicapai masyarakat lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang sehrunya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah. 

2) Pengangguran akan menyebabkan pendapatan negara yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar masyarakat akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah akan berkurang sehingga kegiata pembangunan pun akan terus menurun. 

3) Pengangguran tidak meningkatkan  pertumbuhan ekonomi. Keberadaan penganguran menyebabkan daya beli masyarakat berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi pun berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian, tingkat investasi turun sehingga pertumbuhan ekonomi pun tidak akan meningkat.

Sedangkan dampak pengangguran terhadap perekonomian individu yang mengalaminya dan masyarakat adalah 

1) Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian dan pendapatan. Jika seseorang menganggur atau siapapun yang menganggur, jelas tidak memiliki mata pencaharian. Tanpa mata pencaharian, ia akan kehilangan sumber pendapatan. Hilangnya mata pencaharian dan pendapaatan akan menimbulkan kerawanan social karena setiap individu senantiasa dituntut memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarganya. 

2) Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan. Misalnya, anda adalah seorang karyawan suatu perusahaan. Keterampilan yang anda miliki akan terus meningkat apabila terus digunakan. Jika tidak digunakan, keterampilan yang anda miliki lambat laun akan menghilang dengan sendirinya apabila anda tidak beekrja atau menganggur. 

3) Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan social dan politik. Tingkat pengangguran yang tinggi menggambarkan banyak masyarakat yang kehilangan pendapatan. Namun, mereka tetap dituntut memnuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarganya. Untuk itu, mereka akan melakukan segala cara demi terpenuhi kebutuhannya. Hal inilah yang akan menyebabkan kerawanan sosial, seperti pencopetan, perampokan, dan tindakan criminal lainnya. Pengangguran yang tinggi akan menyebabkan ketidakpuasan masyarakat sehingga dapat menimbulkan unjuk rasa, demonstrasi, bahkan hura-huru sehingga keadaan politik menjadi tidak stabil.


Peran Pendidikan Luar Sekolah Dalam Mengatasi Pengangguran

Dalam mengatasi masalah pengangguran yang semakin meningkat, pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah memiliki andil yang sangat besar untuk mengatasi masalah tersebut beserta cara yang strategis dalam memeranginya. Dalam mengatasi masalah pengangguran tersebut pendidikan luar sekolah dapat digunakan dengan lebih efisien dan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, untuk segala strata ekonomi, strata social dan strata pendidikan, disamping itu juga dapat untuk memecahkan masalah yang mendesak. Dalam memecahkan suatu permasalahan pendidikan luar sekolah mencoba melihat berdasarkan kasus dan kebutuhan yang dialami sesuai dengan karakteristik pada masyarakat

Dalam mengatasi masalah pengangguran, pendidikan luar sekolah membuat sebuah progam belajar yang dikembangkan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Dimana pengembangan sumber daya manusia tersebut merupakan komponen penting dalam sub-sistem pendidikan luar sekolah guna memberikan pendidikan , keterampilan, dan pelatihan pada masyarakat. Sehingga dengan adanya keterampilan dan pelatihan tersebut dapat berguna bagi masyarakat untuk mencari nafkah agar dapat memenuihi berbagai kebutuhan sehari-hari.

Jenis-jenis kegiatan pendidikan luar sekolah dalam mengatasi pengangguran adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia tersebut dapat berupa pelatihan kejuruan, kursus,  magang dalam bidang pertanian, industri, pertukangan, pengetahuan kerumahtanggaan, dan lain-lain. Selain itu cara mengatasi pengangguran adalah dengan penerapan pendekatan pemberdayaan masyarakat, yaitu dengan cara 

1) menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu membebaskan masyarakat dari sekat-sekat kultural dan struktur yang menghambat 

2) memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Pemberdayaan harus mampu menumbuh-kembangkan segenap kemampuan dan kepercayaan diri masyarakat yang menunjang kemandirian mereka 

3) memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan peranan dan tugas-tugas kehidupannya. Pemberdayaan harus mampu menyokong masyarakat agar tidak terjatuh kedalam keadaan dan posisi yang semakin lemah dan terpinggirkan.

















Solusi dan Rekomendasi Kebijakan
  1. Penyelarasan Kurikulum dengan Kebutuhan Industri Pemerintah dan lembaga pendidikan harus bekerja sama untuk memastikan kurikulum pendidikan sesuai dengan kebutuhan industri. Penguatan program magang dan pelatihan kerja yang relevan dapat membantu mengurangi kesenjangan keterampilan antara lulusan dan permintaan pasar tenaga kerja.
  2. Promosi Kewirausahaan Mendorong kewirausahaan di kalangan Generasi Z bisa menjadi salah satu solusi. Program pelatihan kewirausahaan dan akses ke modal usaha dapat membantu mereka menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang lain.
  3. Investasi dalam Sektor Teknologi Pemerintah dan sektor swasta harus berinvestasi lebih banyak dalam sektor teknologi dan inovasi. Menyediakan fasilitas dan lingkungan yang kondusif untuk startup teknologi dapat membantu mengurangi pengangguran dan memanfaatkan potensi Generasi Z dalam mendorong inovasi.
  4. Kebijakan Proaktif Pasca-Pandemi Mengingat dampak jangka panjang pandemi COVID-19, kebijakan yang proaktif diperlukan untuk memulihkan pasar tenaga kerja. Ini termasuk insentif untuk perusahaan yang mempekerjakan pekerja muda, program reskilling, dan upskilling untuk menyesuaikan keterampilan pekerja dengan kebutuhan pasar kerja yang berubah.











Penutup

Tingkat pengangguran Generasi Z yang tinggi menjadi tantangan serius bagi perekonomian Indonesia. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pengangguran di kalangan generasi muda dan dampaknya terhadap berbagai aspek ekonomi, diharapkan dapat dirumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah ini. Kebijakan yang tepat akan membantu mengoptimalkan potensi Generasi Z, sehingga mereka dapat berkontribusi secara maksimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.



Komentar

Posting Komentar